Agnia Gadisku


Masuk ke tantangan menulis minggu kedua di satu minggu satu cerita. Meski sempat tidak percaya diri melihat teman-teman blogger yang isi tulisannya sangat berkualitas. Takjub melihat aneka ragam tulisan yang warna bahasa dan ceritanya sangat memukau.Tetapi akhirnya saya berpikir,jika tidak sekarang untuk memulai menulis,kapan lagi ada kesempatan meskipun hanya satu minggu satu cerita. Saya memilih menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya agar terlatih  menuangkan rasa lewat tulisan meski belum bisa sehebat teman-teman yang lain.

Ini hanya cerita sederhana tentang gadis  kecilku yang sudah beranjak remaja. Agnia,13 tahun usianya. Dia seorang homeschooler yang berani. Berani beda,berani mencoba melewati medan sulit dalam masanya. Dimana dia tak bisa bergandengan tangan bersama sahabat-sahabatnya setiap waktu. Dia telah begitu mantap saat memilih untuk belajar seutuhnya di rumah. Tak ada kesulitan yang berarti. Bahkan aku sering terkaget-kaget dengan pola pikir homeschooler satu ini. Semalam tadi saat dia bercengkrama dengan laptopnya. Dia mengajakku berbicara.
" Ummi,kakak bersyukur tidak sekolah di luar sana seperti teman kakak yang besok memilih tak sekolah karena tak bisa mengerjakan tugas sekolah. Kakak beruntung bisa sekolah di rumah,bisa belajar apa yang kakak suka  meski tetap kakak harus mampu bertanggung jawab atas semua yang kakak kerjakan."
Aku tersenyum penuh arti tak bisa banyak kujelaskan tentang rasaku yang teramat beruntung membesarkannya. Meskipun  aku juga sadar tak selamanya dia berkata sempurna menyenangkan. Terkadang ada ulahnya yang membuatku kesal,pribadinya yang terkadang cuek,sesekali iseng,bertengkar,berebut apa saja sama adiknya yang beda usianya cukup jauh,7 tahun. Tetapi itulah warna lain dari Agnia gadis kecilku yang sudah beranjak remaja. Selebihnya,dia mutiara bagiku. Mutiara yang begitu indah. Saat jaman begitu terasa asing di benakku,saat kondisi remaja sekarang begitu terlihat semrawut berantakan. Dia selalu punya sudut pandang lain yang berbeda dari remaja seusianya. Dia pribadi yang supel meski cenderung terlihat pendiam.
"Jika kakak berada di luar sana. Sebelum waktunya. Sebelum cukup tempaan dari ummi. Mungkin hari ini ummi akan banyak menangis saat melihat hp kakak berisi chat-chat tentang pacaran." Dia menatap wajahku lekat penuh kasih sayang.
Aku menjawab perlahan." Semua ummu lakukan dengan kasih sayang nak,ummu bersyukur sudah sejauh itu yang kakak pikirkan. Tetap istiqomah ya menjaga semua."
Agniaku bukan anak yang tercium prestasinya dan menyebar kemana-mana. Agniaku tidak memiliki banyak piagam dan piala. Senyap sekali namanya. Tetapi dia seutuhnya juara bagi hidupku dan suami saat dia bisa menerima konsekuensi menjadi homeschooler.

Saat kutulis cerita ini. Diapun tengah sibuk melihat artikel keren. Kami tenggelam dengan kegiatan kami masing-masing. Tiba-tiba dia menutup laptopnya.
"Ummi,kakak tidak jadi ya beli jilbabnya(gamis)."
"Lho kenapa?bukankah kaka sudah menabung?" Aku kaget,saat dia mau menggagalkan pesanan gamis yang sudah terlanjur kupesan dari temanku.
"Kakak baca di tulisan Dunia Jilbab. Kakak malu,terkadang setiap trend kita ikuti lantas kapan kakak belajar qonaah?mungkin ini saatnya membuktikan,cukup 7 jilbab saja(gamis)." Dia tersenyum mantap. Kupeluk erat,kuucapkan terima kasih atas setiap keputusan-keputusan yang melatihnya menjadi pribadi yang matang.
Kusudahi tulisan ini. Meski ceritaku ini  teramat ringan tapi aku semakin percaya diri untuk menempa buah hatiku dengan ilmu hidup yang terbaik.

Komentar

  1. ((((7 jilbab saja))))

    *kujadi maluuuuuu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjuangan bangeeeeeet, butuh suru tauladan juga๐Ÿ˜

      Hapus
  2. wah, hebat sekali bisa mendidik anak jadi seorang pembelajar :) *salim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terimakasih sudah berkunjung๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜

      Hapus
  3. Subhanallah keren putrinya mba, semoga saya bise menerapkan ke anak saya kelak, (eh nikah aja belum, ngomongin anak hehe). Salam kenal mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga.. Justru lebih baik belajar dari skrg supaya nanti pada waktunya siap, karena mendidik anak di era digital ini sangatlah berat, butuh 1 kampung untuk mendidik 1 anak.. Ehh, kapan mau nikah? Hehe (:

      Hapus
    2. Hahah insaAllah sedang di persiapkan. Hemmmm, sepertinya pertengahan tahun ini haha. Doanya yah

      Hapus
  4. Subhanallah mbak keren...sy jadi tersindir..krn suka beli jilbab disambung ama warna baju..kadang malah salah beli warna jadi aja mubazir...makasih mbak..smoga sy bisa mencontoh untuk putri kecil sy juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, ini hanya trigger kecil, hehe.. Yuk semangat qanaah (:
      Salam kenal yaa..

      Hapus
  5. Alhamdulillah terinspirasi baca ceritanya Mba :)

    Jadi bertanya ke diri sendiri, "kapan saya belajar qonaah?" Saluuut sama Aghnia!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga berkah.. Salam kenal yaa, semoga kita bisa bersinergi. Semangat qanaah (:

      Hapus
  6. barokallah... alhamdulillah.. btw, itu buku yg ditunjukin buku karangan aghnia? wa... apa judulnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. Bukaaan. Tapi semoga jadi doa ya. Semoga nanti Agnia bisa jadi penulis..๐Ÿ˜๐Ÿ˜ salam kenal yaa..

      Hapus
  7. Ih Agnia nya keren banget...Pasti krna ummi nya jg didik dia dgn sangat baik.
    Smoga tetap qonaah Agnia sayang. Dan tumbuh menjd gadis sholehah yang memberi manfaat bagi banyak org ^_^ salam kenal arha
    Eh, tulisan nya bagus kok kak. Aq jg member #1m1c dan blm menulis sampe skrg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai ammah.. Aku Agnia. Peluk sayang buat ammah. Jalan2 yuk ke akun fb ummi. Rizka ummi Agnia Ibrahim. Mksh doanya ya ammah,tolong di add ya.๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜

      Hapus
  8. Umminya luar biasa keren ini.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoax niiiih.... ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.. Aamiin. Makasih bunda Chika guruku sayang..

      Hapus

Posting Komentar