Ummi, Ajarkan Aku Menjadi Sholihah


Beberapa saat sebelum buka puasa, kutatap wajah ummi, matanya berkaca-kaca dalam renungan. Aku tak bisa menebak apa yang dipikirkannya. Kudekati perlahan, kusentuh tangannya.

"Ummi, sakit?" Tanyaku

"Nggak sayang, umm baik-baik saja." Jawab ummi pelan

"Mengapa ummi terdiam dan mata ummi berkaca-kaca, ummi menangis?" Tanyaku kembali

"Umm tengah mendoakanmu agar senantiasa menjadi anak yang sholihah." Ummi tersenyum dan menyeka tiap titik air matanya.

"Ah ummi, aku terharu. Mengapa mesti sebelum buka shaum?" Lagi-lagi aku bertanya.

"InsyaaAllah, waktu sebelum buka shaum adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Umm berdoa agar kalian sholeh dan sholihah, diberikan keadaan yang terbaik dan senantiasa Allah ridhoi." Ummi tersenyum lembut.

Obrolan kami terhenti karena adzan telah berkumandang, menandakan shaum harus diakhiri. Tetapi pikiranku, terus terbenam dalam kata-kata ummi. Ummi selalu mengatakan, sehebat apapun diri kita takkan berarti apa-apa ketika jiwa kita tidak memiliki kesholihan. Aku selalu melihat upaya ummi yang besar untukku dan adikku tapi ummi selalu menangis begitu banyak dalam doa. Setiap kutanya mengapa, ummi selalu mengatakan agar Allah menyelamatkan langkah kita dari kesia-siaan.

Aku semakin mengerti, senjata ummi dalam menguatkan tekad sebagai seorang ibu adalah dengan doa. Nasehatnya selalu penuh sepanjang waktu.  Aku menatap saat ummi terlelap kelelahan, ummi yang sederhana selalu tanpa pamrih memapahku. Saat kulihat hijab-hijabku, aku ingat saat ummi memakaikannya pertama kali, waktu itu usiaku baru 4 tahun warna kerudungnya merah. 

Tak terasa 9 tahun ummi memapahku menjaga aurat. Ummi menuntunku dengan ramah tentang cinta yang dia berikan karena Allah. Ummi yang sederhana tetapi istimewa untukku. 

Ummi, ajarkan aku menjadi sholihah agar aku tidak takut mengarungi kehidupan yang dewasa nanti. Ummi, ajarkan aku tetap sederhana agar aku tidak silau dengan dunia.

Sesekali ummi pernah marah jika aku berbuat ulah tapi beberapa menit kemudian ummi akan memelukku sehingga aku akan tersedu memohonkan maaf.

Persahabatanku dengan ummi begitu indah, saat ummi menangis bisa tiba-tiba tertawa ketika aku menggodanya dengan jenaka, saat umi menulis bisa tiba-tiba menyuruhku melanjutkan tulisannya, padahal sama sekali aku tak mengerti alur ceritanya. Begitu unik belajar arti kehidupan bersama ummi. Perbedaan usia aku dan ummi 23 tahun tetapi banyak warna yang aku dan ummi lukiskan. Aku tak menemukan ummi yang memberi batas pada kasih sayangnya, selalu luas.

Ummi ajarkan aku tentang arti cinta, sehingga aku tak sungkan memeluk tubuhnya dan terbenam dalam pelukannya. Malam sudah semakin beranjak. Dingin malam tak menggangguku karena hangat yang ummi tawarkan dalam tiap doa dan nasehat membuatku menemukan cermin untuk senantiasa merapikan langkah.

Kisahku untuk 1minggu1cerita...


Komentar

  1. "waktu sebelum buka shaum adalah waktu yang mustajab untuk berdoa"......

    harus dicatat ini pesannya. menyenangkan sekali bisa membangun hubungan interpersonal seperti itu dengan sang ummi. saya dan ibunda saya pun beda usianya hanya 23 tahun.

    nice sharing! 🙃🙃🙃
    www.iamandyna.com

    BalasHapus

Posting Komentar